Kamis, 06 Mei 2010

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.
[sunting] Berkembang

Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.

Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan, dan Tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata, dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong menjadi kesenian Pong-Dut.Jaipongan yang telah diplopori oleh Mr. Nur & Leni

Jaipong KembangTanjung 3/4

Indonesia Raya

Rabu, 05 Mei 2010


Sepintas tentang jawa barat
Apa yg terpintas dalam benak kita tentang jawa barat.. makanan, jajanan khas?seni dan budayanya? atau pusat perbelanjaanya dimana dapat kita temui banyak FO,,FO di salah satu kotanya.Sedikit mari kita ulas apa yg ada pada propinsi yg satu ini. Jawa barat Atau lebih dikenal tanah pasundan ini menyuguhkan berbagai macam aneka Seni dan BUdaya,serta aneka makanan dan jajanan.Propinsi ini adalah salah satu penyangga Jakarta, industri banyak bertebaran. Namun sekaligus wisata alamnya tidak kalah heboh, Tangkubanperahu, Pangandaran, Puncak, Kebun Raya Bogor, Istana Kasepuhan dst…sambil menyeruput teh khas tanah Pasundan, makan combro, surabi bandung dan masakan serba sayur plus ikan…disini tempatnya.

Kabupaten :
Bandung, Bekasi, Bogor (Cibinong), Ciamis, Cianjur, Cirebon (Sumber), Garut, Indramayu, Karawang, Kuningan, Majalengka, Purwakarta, Subang, Sukabumi, Sumedang, Tasikmalaya

Kota :
Bandung, Banjar, Bogor, Cimahi, Cirebon, Depok, Sukabumi, Tasikmalaya

Suku Bangsa :
Sunda, Jawa (Cirebon), Betawi, Cina, Arab, dan lain-lain.

Makanan khas :
Nasi Timbel Bandung, Nasi Mogana, Karedok Leunca, Laksa Bogor, Asinan Bogor, Manisan Cianjur, Dodol Garut, Ikan bakar lalapan khas Sunda, Soto Bandung, Sega Jamblang, Sega Lengko, Empal Gejrot, Docang, Ikan jambal roti asin Indramayu, Bajigur, Bandrek, Batagor, Siomay Bandung, Surabi Bandung, Combro dll

Kesenian khas :
Jaipong, Sisingaan, Seren Taun, Tari Topeng (Cirebon, Losari, Indramayu, Majalengka), Wayang Golek Sunda, Wayang Kulit Cirebonan, Tarling, Kacapi Suling, Degung, Sintren, Dombret, Ketuk Tilu, Kuda Renggong, Angklung, Barong Cirebon, Calung pencak silat.benjang lais. dll

Gemah Ripah Repeh Rapih, merupakan pepatah lama Sunda yang bermaksud menyatakan bahwa Jawa Barat adalah daerah yang kaya raya yang didiami oleh banyak penduduk yang rukun dan damai.

Bentuk bulat telur pada lambang Jawa Barat berasal dari bentuk perisai yang banyak dipakai oleh para laskar kerajaan zaman dahulu.

Kujang merupakan alat serba guna yang dikenal pada hampir setiap rumah tangga Sunda dan apabila perlu dapat juga digunakan sebagai alat penjaga diri dan lima lubang pada kujang tersebut melambangkan lima sila pada dasar negara Pancasila.

Padi merupakan bahan makanan pokok masyarakat Jawa Barat sekaligus juga melambangkan pangan dan jumlah padi 17 menggambarkan hari tanggal 17 dari bulan Proklamasi.

Kapas melambangkan sandang dan jumlah kapas 8 buah menyatakan bulan ke-8 dari tahun Proklamasi.

Gunung, adalah lambang yang menunjukan bagian terbesar dari Jawa Barat berupa daerah pegunungan.

Sungai dan Terusan melambangkan sungai, terusan dan saluran air yang banyak terdapat di Jawa Barat; Sawah dan Perkebunan; menyatakan luasnya lahan persawahan dan perkebunan (dibagian selatan dan tengah) di Jawa Barat.

Dam, Saluran Air dan Bendungan kegiatan dibidang irigasi merupakan salah satu perhatian pokok mengingat Jawa Barat merupakan daerah agraris.

Selasa, 04 Mei 2010

KUDA LUMPING(EBEG) KHAS JAWA TENGAH DAN JAWA TIMUR

beberapa tahunyg lalu, tepatnya ketika saya lulus dari SMP di bandung orang tua saya memutuskan untuk menyekolahkan saya di tempat ibu saya dilahirkan dan menitipkan saya pada salah satu kk perempuan ibu saya tepatnya di Kab.kebumen.awalnya saya merasa keberatan dan menolak..karna yg terlintas dibenakku saat itu pasti ga aseekk sekolah didaerah terpencil kaya gitu,dengan terpaksa sayapun menuruti apa yg diinginkan kedua orangtua saat itu,akhirnya .saya pun masuk di salah satu SMK di daerah tersebut,

Hari demi hari saya jalani danternyata banyak hal hal baru yg bisa saya dapati ketika saya tinggal dan bersekolah di sana. Ada banyak kesenian yg saya sukai dan ingin saya ikuti pada saat saya tiggal disana.salah satunya kesenian kuda lumping.sedikit tentang kesenian kuda lumping coba saya uraikan..

Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran Kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Malaysia dan Singapura.

Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Konon, tari kuda lumping merupakan bentuk apresiasi dan dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat lengan dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada jaman dahulu berkembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.

Di Jawa Timur, seni ini akrab dengan masyarakat di beberapa daerah, seperti Malang, Nganjuk, Tulungagung, dan daerah-daerah lainnya. Tari ini biasanya ditampilkan pada event-event tertentu, seperti menyambut tamu kehormatan, dan sebagai ucapan syukur, atas hajat yang dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.

Dalam pementasanya, tidak diperlukan suatu koreografi khusus, serta perlengkapan peralatan gamelan seperti halnya Karawitan. Gamelan untuk mengiringi tari kuda lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan Slompret, yaitu seruling dengan bunyi melengking. Sajak-sajak yang dibawakan dalam mengiringi tarian, biasanya berisikan himbauan agar manusia senantiasa melakukan perbuatan baik dan selalu ingat pada Sang Pencipta.

Selain mengandung unsur hiburan dan religi, kesenian tradisional kuda lumping ini seringkali juga mengandung unsur ritual. Karena sebelum pagelaran dimulai, biasanya seorang pawang hujan akan melakukan ritual, untuk mempertahankan cuaca agar tetap cerah mengingat pertunjukan biasanya dilakukan di lapangan terbuka.

Dalam setiap pagelarannya, tari kuda lumping ini menghadirkan 4 fragmen tarian yaitu 2 kali tari Buto Lawas, tari Senterewe, dan tari Begon Putri.

Pada fragmen Buto Lawas, biasanya ditarikan oleh para pria saja dan terdiri dari 4 sampai 6 orang penari. Beberapa penari muda menunggangi kuda anyaman bambu dan menari mengikuti alunan musik. Pada bagian inilah, para penari Buto Lawas dapat mengalami kesurupan atau kerasukan roh halus. Para penonton pun tidak luput dari fenomena kerasukan ini. Banyak warga sekitar yang menyaksikan pagelaran menjadi kesurupan dan ikut menari bersama para penari. Dalam keadaan tidak sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya.

Untuk memulihkan kesadaran para penari dan penonton yang kerasukan, dalam setiap pagelaran selalu hadir para datuk, yaitu orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui baju serba hitam yang dikenakannya. Para datuk ini akan memberikan penawar hingga kesadaran para penari maupun penonton kembali pulih.

Pada fragmen selanjutnya, penari pria dan wanita bergabung membawakan tari senterewe.

Pada fragmen terakhir, dengan gerakan-gerakan yang lebih santai, enam orang wanita membawakan tari Begon Putri, yang merupakan tarian penutup dari seluruh rangkaian atraksi tari kuda lumping.


KAMPUNG SENI DAN WISATA MANGLAYANG UNTUK KESUNDAAN


Untuk berseni pun, orang memerlukan wadah yang jelas, tempat mereka bisa mendapatkan atau menyalurkan kreativitas dalam mengangkat seni dan kebudayaan yang digelutinya.

Di ujung Bandung Timur yang berbatasan dengan Cileunyi, ada wadah tempat para warganya dapat mengkreasikan kemampuan dalam berseni. Masyarakat menyebut tempat tersebut “Kampung Seni dan Wisata Manglayang”.

Ria Dewi Fajaria selaku pembina perkampungan tersebut mengatakan, dia bersama suami menggagas tempat seperti itu supaya para warga memiliki wadah atau naungan dalam berkarya.

"Dari tanah seluas sekitar 1,8 hektare yang ditata sedemikian rupa dengan ditanami pepohonan supaya terlihat asri, juga terdapat kolam, saung, tempat pertunjukkan seni dan budaya, kuliner, kerajinan, maupun tempat pemancingan inilah kami merintis supaya masyarakat di sini dapat menyalurkan kebolehan dalam mempertunjukkan kesenian sunda,” kata Ria.

Dia mengatakan, pada tahun 2005 perkampungan ini masih beradaptasi dengan warga sekitar, mereka masih melihat, mendengar, mapun merasakan hal apa saja yang dapat dihasilkan oleh tempat ini.

"Pada waktu itu pun kamu mempopulerkan musik dangdut utuk dapat memperkenalkan kesenian sunda. Pada saat penampilan musik itulah kami menyisipi kesenian sunda. Memang musik dangdut sangat populer bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Pada 2007 “Kampung Seni dan Wisata Manglayang” resmi dibuka pada 29 Agustus oleh Danny Setiawan, yang pada saat itu selaku Gubernur Jawa Barat.

Ria mengatakan, dalam komunitasnya perkampungan seperti ini supaya dapat mewadahi masyarakat supaya dapat mengemas objek pariwista dengan mempertontonkan pertunjukkan khas sunda.

“Kampung Seni dan Budaya Manglayang” merupakan "Mandala kasundaan sarakan paduriatan", yaitu bertolok dari konsep pandangan hidup masyarakat tatar sunda, kata Ria.

Ria mengatakan, seni dan budaya sunda merupakan bagian penting dalam mengusung kekayaan dan kekuatan seni dan budaya bangsa Indonesia.

"Kita mesti dapat mempertahankan secara optimal kekayaan kebudayaan bangsa ini supaya kekayaan bangsa ini dapat terus terjaga dengan baik,” katanya.

Oleh karena itu agar tetap hidup, tumbuh dan berkembang secara selaras dan seimbang dengan berbagai tatanan serta tuntutan kehidupan sepanjang masa, seyogyanya diperlukan antara lain adanya wadah-wadah kegiatan nyata yang relevan dan berkesinambungan, baik dilaksanakan di habitatnya maupun dihimpun di suatu tempat yang layak, tambahnya.

Ria mengatakan, Kampung Seni dan Wisata Manglayang memberanikan diri dan berupaya secara optimal untuk menjadi salah satu satu wadah yang menghimpun dan mengelola potensi seni dan budaya sunda.

Di Kampung seni dan Wisata Manglayang pun memberikan suatu pendidikan budaya yang ditanamkan secara dini kepada anak-anak supaya mereka tersadar akan budaya ynag dimiliki khususnya budaya sunda.

Dalam hal ini diharakan melahirkan generasi kisunda yang cageur, bageur, bener, pinter, singer, tiger, pangker, wanter, cangker, dan weruh disemuna rancage hantena, widel imana, dan hade akhlakna, kata Ria.

Dia mengatakan, adapun untuk mengimplementasikan secara operasional, seyogyanya diselaraskan dengan kondisi masa atau bisa ngigelan jaman jeung ngigelkeun jaman.

Dengan adanya kampung seni ini juga tidak berjalan semulus yang diharapkan masih mempunyai kendala-kendala yakni mau dibawa kemana sih kampung seni dan budaya ini oleh masyarakat sekitar, tetapi lambat laun warga pun mengetahui akan garapan yang diusung oleh perkampungan seni ini.

"Dalam hal ini perkampungan seni mesti dapat menyelamatkan kesenian sunda yang hampir punah terutama yang menjadi khas di sekitar wilayah gunung Manglayang Kabupaten Bandung," katanya.

Dalam pembelajaran yang dikerjakan oleh Kampung Seni dan Budaya Manglayang menyajikan beberapa materi yakni ibing sulanjana, ibing penca, reak kreasi, lodang, dongeng, ngagambar, reak helaran, dan benjang, gedur, wayang golek, wayang catur, celempungan, ketuk tilu, kungclung,dan marawis.

"Kegiatan tersebut sebagai upaya melestarikan dan memberdayakan kekayaan seni dan budaya beserta pelakunya, terutama yang menjadi ciri khas di sekitar perkampungan ini," katanya.

Kampung Seni dan Wisata ini menjadi salah satu tempat yang potensial di wilayah provinsi Jawa Barat dalam menghimpun dan mengelola Seni dan Budaya yang mendukun program nasional dalam pembangunan seni, budaya, pendidikan, dan pariwisata.

Dalam perkampungan seni ini, anak-anak maupun warga sekitar dapat berapresiasi dalam mempertahankan kesenian kasundaan yang dilakukan oleh mereka selepas pulang sekolah atau beraktivitas di luar keseharian dalam hal berseni.

Ria mengatakan, kampung ini berupaya menumbuhkembngkan seni dan budaya sebagai sarana apresiasi masyarakat serta bagi wisatawan.

Wadah seperti ini supaya dapat berpotensi dengan kuat dan besar manfaatnya dijadikan sebagai wahana pelestarian atau pemeliharaan dan pemberdayaannya utuk kepentingan apresiasi, studi pariwisata, dan lain-lain, tambahnya.

Minggu, 02 Mei 2010

jalan disekitar wilayah kab bandung

Beberapa hari yg lalu pergi menemui kk perempuan saya yg berada di daerah ciparay Kab, bandung. dengan menggunakan sepeda motor saya menyusuri jalan rancaekek, majalaya ciparay.perjalanan sore itu terasa sangat melelahkan dan cukup menyulitkan.
hal ini disebabkan karna jalan yg saya lalui rusak dan banyak yg berlubang,yentunya saya pun harus ekstra hati2 karna hampir semua jalan yg saya lalui rusak dan berlubang ,belum lagi ditambah padatnya arus kendaraan besar dari pabrik yg melewati jalur tersebut.

muncul pertanyaan dalam pikiran saya saat itu.. kenapa bandung tak lagi nyaman dan indah seperti dulu? kenapa Pemda dan Pu tidak jua memperbaiki jalan yg sudah lama rusak? apa tidak ada dana? atw blon keluar?lalu apa apa gunanya kita bayar pajak? lalu apa gunanya penariakan retribusi seperi angkot, truk, dll yg melintasi jalur tersebut, kmana larinya dana tersebut, lalu untuk apa dana tersebut?

Pertanyaan diatas coba saya diskusikan dengan beberapa warga sekitar kediaman kk perempuan saya,, wetsss ternyata begitu banyak jawaban yg mereka katakan pada waktu itu.. dan bukan hanya jawaban kebanyakan sih keluhan..

contoh ada yg menjawab,, yah wajarlah jalan jadi rusak.. wong truk2 besar dari pabrik lewat jalur sini kok. ada juga yg menjawab sekaligus mengeluh.. maklumlah kan masa jabatan bupati sekarang hampir habis,, dan beliau juga ga bisa nyalon lagi,,yah pasti dibiarain jalanya rusak.
biar jadi tugas bupati yg baru.. lumayanlah bisa bwat bahan kampanye calon bupati yg satu partai. kan bisa bwat obral janji klo terpilih..... jalan ini pasti saya perbaiki.

hmmm iya juga kayanya sih,tapi saya blon puas dengan jawaban2 tadi.. jawaban itu akan terjawab pastinya pas masa kampanye para calon bupati kab bandung yg sebentar lagi akan berlangsung..